Relativitas Kerja

Morning World,

Tidak seperti biasanya, pagi ini saya betul – betul kehilangan semangat bekerja. Pagi ini saya kehilangan motivasi dan cenderung skeptis. Saya merasakan kebosanan yang sangat, padahal 2 hari sebelumnya, bahkan sampai kemarin saya baru saja disuntik motivasi besar-besaran melalui buku yang saya baca “Dua Tangis dan Ribuan Tawa” karya Eks CEO PLN, Dahlan Iskan. Mengutip salah satu kalimat beliau…betapa relatifnya semangat kerja…

Sejak September 2008 (berarti sudah 3,5 tahun) saya diterima sebagai Karyawan BUMN dengan nilai aset terbesar (tentu satu hal yang harus selalu saya syukuri),namun bagi saya bekerja pada posisi yang sama, ruangan yang sama, kantor yang sama tanpa kejelasan jenjang jarir, adalah suatu pembunuhan integritas. Banyak memang ilmu yang saya dapat, mengingat saya sering ditugasi hal – hal bersifat praktis tapi tidak strategis. Diberikan tanggungjawab tapi tidak difasilitasi. Diberikan pengalaman kerja, tapi tidak diberikan jenjang karir yang jelas (meskipun dalam kasus ini urusannya lebih luas, tapi setahu saya level manajemen dapat mengupayakan hal tersebut, tapi tidak dilakukan). Yah saya mulai merasakan,,,betapa relatifnya kualitas manajemen….

Beberapa orang teman, sudah “terbang” dengan sayap – sayap integritas dan profesionalisme. Tapi saya, masih berkutat dalam lingkup “mengejar ketertinggalan”, “memperbaiki kondisi” dan “egoisme manajemen -manajemen bermindset lokal” . Hmmm, jangan disalah artikan kalimat saya, tidak ada maksud sedikitpun memunculkan kesombongan dalam pernyataan saya. Saya menilai karena saya menyadari atau lebih tepatnya mengetahui, standar kualitas manajemen / profesionalisme suatu perusahaan dari membaca. Satu hobi yang pada akhirnya membuat saya “tersiksa” karena memberikan pengetahuan yang kemudian menjadi mimpi (atau harapan) saya. Umur saya baru akan menginjak 28 tahun, saya meyakini lapisan – lapisan integritas dan idealisme masih melekat dalam tubuh saya, dan kelihatannya (akan) mulai mengelupas karena saat ini komunitas yang tidak mendukung integritas/ profesionalisme (buktinya adalah mulai munculnya bibit – bibit demotivasi dan skeptis). fyuh…anda pernah mengalaminya? percayalah,,,integritas dan moral (agama,red) akan menjadi value yang akan mengangkat value-value yang lain dan mempercepat akselerasi kemajuan dalam organisasi/perusahaan (termasuk bangsa ini). Itulah kenapa, hal yang paling seharusnya ditakuti oleh manajemen/pemangku keputusan (jika harus memilih) adalah kehilangan orang yang berintegritas dan bermoral daripada orang yang berkompeten disuatu bidang. Hal ini kelihatannya belum disadari oleh manajemen saya. Hmm,,, alangkah relatifnya suatu keputusan….

 

Mungkinkah Hasil Test Pack Salah?

Saya mau share saja, dari blog lain. Hal ini menarik karena kebetulan saya juga sedang mencari informasi ini untuk istri saya. Semoga bisa memberikan informasi dan kepercayaan diri bagi yang mengalaminya. Dan sesuai keyakinan saya, ada ketentuan Allah SWT yang akan mewujudkan hal paling tidak mungkin bagi manusia, kita hanya perlu terus bertwakkal dan berkhusnudzon padaNYA serta mengambil hikmah setiap ketentuannya. Saya berdoa untuk keluarga saya sendiri dan keluarga lain yang masih menunggu AmanahNYA (keturunan-red), agar senantiasa mendapat kententuan yang baik dariNYA. Wallahu a’lam.

***

Mungkin saja kualitas alat yang digunakan rendah, atau malah cara penggunaannya tidak tepat.

Walau sudah telat haid dua minggu, Rinta tetap yakin dirinya tak hamil. Keyakinannya berawal dari alat tes kehamilan dengan test pack yang menunjukkan hasil negatif. Berkat desakan sang suami, ia melakukan tes lebih lanjut dengan datang ke dokter kandungan. Ternyata pemeriksaan USG menyatakan Rinta positif hamil enam minggu.

Mengapa hasil tes di rumah dan di laboratorium bisa berbeda? Padahal pada kemasan test pack biasanya tertulis keterangan 99% akurat. Dengan meneteskan urin di permukaan alat, seharusnya hasil deteksi positif hamil atau tidak bisa didapat dalam hitungan menit.

KELIRU PEMAKAIAN

Menanggapi kasus yang dialami Rinta, dr. H. Taufik Jamaan, Sp.OG., menjelaskan sebenarnya alat ini bekerja dengan mengecek kadar hormon Human Chorionic Gonadotropin (HcG) dalam darah. Hormon HcG adalah jenis hormon kehamilan yang diproduksi dalam plasenta sesaat setelah embrio menempel pada rahim ibu.

Nah, adakalanya hasil tes kehamilan tidak akurat karena berbagai penyebab. Salah satunya karena alat itu rusak dan tidak layak pakai. Kerusakan ini umumnya disebabkan suhu tempat penyimpanan test pack yang tidak cocok, sementara menurut Taufik, test pack harus disimpan di tempat yang sejuk atau tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka sensitivitasnya dalam mendeteksi kehamilan pun jadi kurang akurat.

Selain itu, memang ada test pack yang memiliki kualitas rendah sehingga tingkat akurasinya perlu dipertanyakan. Lantaran itu, tutur Taufik, agar hasil tes tak keliru, pilihlah test pack yang berkualitas. Juga, gunakan sesuai petunjuk. Pemakaian alat tes secara asal-asalan sangat mungkin menghasilkan data yang tidak akurat. Umpamanya, dalam kemasan tertulis urin yang harus digunakan adalah urin pagi hari begitu bangun tidur tapi ibu malah melakukan tes, siang atau sore hari. Tentu saja, test pack yang dipakai jadi tidak cukup sensitif mendeteksi hormon kehamilan karena hanya urin pertama setelah tidur yang kental kandungan hormon HcG-nya.

Taufik juga mengingatkan, mungkin saja masalahnya bukan disebabkan kualitas test pack yang jelek, tetapi gangguan hormonal yang menyebabkan haid telat datang. Penyebab umumnya adalah masalah psikologis, seperti stres akibat tekanan pekerjaan atau masalah keluarga.

KEGUGURAN TAK DISADARI

Di lain pihak, Taufik menganjurkan, meskipun tes di rumah menunjukkan hasil negatif kalau haid terlambat datang, berlakulah seperti layaknya sedang hamil. Ada beberapa tanda yang bisa dijadikan petunjuk kehamilan, salah satunya perubahan rasa pada tubuh. “Biasanya ada rasa kembung, nyeri tekan pada payudara, dan sering tidak enak badan. Kalau ada perubahan seperti itu dan tidak ada penyakit lain, sangat mungkin ibu positif hamil,” ungkap ginekolog yang berpraktek di Klinik Morula RS Bunda, Jakarta Pusat ini.
Sikap tidak peduli jelas merupakan tindakan keliru karena jika memang terjadi kehamilan dan ibu tidak menjaganya, maka bisa terjadi abortus spontan. Keguguran yang tidak disadari ini ditandai dengan vlek berupa darah. Biasanya ibu akan mengira hal itu sebagai menstruasi biasa.

LAKUKAN TES KEMBALI

Jika yakin kehamilan tengah berjalan, tidak ada salahnya mengulangi tes di rumah keesokan harinya. Gunakan alat tes yang diyakini lebih sensitif dan lakukan sesuai petunjuk. Penggunaan test pack berulang di antaranya dianjurkan oleh The National Institute of Enviromental Health Sciences di Amerika. Penelitian yang mereka lakukan terhadap alat tes kehamilan di pasaran menunjukkan bahwa hasil tes tidak selalu dapat diandalkan. Mungkin saja hasilnya negatif sementara kehamilan sebetulnya terjadi.

Mengapa bisa seperti itu? Tak lain karena proses kehamilan pada masing-masing wanita memiliki perbedaan. Ini diperkuat dengan penelitian terhadap 221 wanita yang sedang merencanakan kehamilan yang dilakukan lembaga tersebut. Dari 136 wanita yang berhasil hamil, hanya sekitar 90 persen yang implantasi embrionya terjadi pada saat haid terlambat satu hari. Meskipun demikian, test pack belum bisa mendeteksi kehamilan yang terjadi karena kadar HcG dalam darah masih terlalu rendah. Untuk itulah, penggunaan test pack dianjurkan tak hanya sekali saja.

Kesimpulannya, kalau menginginkan hasil akurat, ibu bisa menjalani tes darah ataupun pemeriksaan USG. Tes darah di laboratorium bisa mendeteksi kadar hormon HcG. “Tes ini umumnya lebih efektif karena bisa mendeteksi kadar HcG yang rendah, sekitar 20-30/mµ. Kalau kadarnya di bawah 20/mµ berarti kehamilan memang negatif,” ujar Taufik. Namun umumnya, tes HcG hanya dilakukan pada terapi kehamilan, bayi tabung misalnya.

Sedangkan pemeriksaan dengan USG dilakukan oleh ginekolog. “Bila tes menunjukkan hasil positif, tindakan yang biasanya dilakukan oleh dokter adalah memberi obat penguat kehamilan,” ujar Taufik.

Saat Tepat DAN AKURASI

Kapan saat tepat melakukan tes kehamilan di rumah? Kata Taufik, lakukan pada hari ke-16 setelah melakukan hubungan intim. Tak perlu menunggu sampai telat menstruasi. Jika perkembangan pembuahannya baik, umumnya di hari ke-16 setelah berhubungan intim, alat tes bisa mendeteksi adanya kehamilan atau tidak. Bahkan ada alat yang bisa mendeteksi kehamilan lebih cepat lagi, yaitu pada hari ke 7 sampai 10 setelah berhubungan intim. “Dengan catatan hubungan intim dilakukan saat istri sedang subur,” tambahnya. Selebihnya, ada alat tes yang memang lebih efektif kalau digunakan setelah ibu telat haid.

Yang perlu diketahui, alat tes kehamilan yang ada di pasaran hanya mampu mendeteksi kehamilan dengan kadar HcG dalam darah 50/mµ. Kalau di bawah itu, meskipun sebenarnya ibu positif hamil, alat tes umumnya tidak dapat mendeteksi. Hal ini merupakan kelemahan test pack disamping bahwa keakuratannya bisa mencapai 97%. Tentu saja hasil tersebut bisa dicapai bila tes dilakukan dengan cara yang tepat sesuai petunjuk pada kemasan.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Sumber : http://icuzzz.blogspot.com/2004/06/lo-hasil-test-pack-kok-bisa-salah.html

CSR Services

Pagi ini, saya tidak sengaja menonton pembahsan yang menarik di salah  satu stasiun tv swasta yang khusus membahas bisnis. Topik tersebut membahas tentang CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Dari semenjak di perkuliahan saya memang sudah banyak mendengar tentang CSR karena memang menjadi salah satu mata kuliah saya. Namun dunia kerja memang berbeda dengan teori, dunia kerja memberikan dimensi baru yang tidak muncul dalam teori. Kalau saya bisa simpulkan, teori adalah sebuah idealisme/standar, namun dunia kerja memberikan pengalaman dan peluang pengembangan teori baru akan sesuatu. 

Kembali kepada CSR, pembahasan tersebut secara khusus membahas tentang CSR Green. Dalam arti CSR tersebut difokuskan kepada lingkup pengelolaan alam (tidak kepada manusianya secara langsung). Disampaikan bahwa, banyak perusahaan yang tidak melaksanakan bahkan mamahami tentang CSR. Saya pernah mendapat konotasi yang sederhana mengenai CSR (yang menurut saya ada benarnya juga), bahwa CSR itu seperti alat penebusan dosa-dosa perusahaan terhadap lingkungan. Menurut saya memang benar, dalam konteks ini ditujukan kepada perusahaan yang terbukti sebagai pencemar dan tidak melakukan pengelolaan lingkungan meskipun sudah ada peraturan yang mengaturnya. Namun, akan menjadi sebuah added value  bagi suatu perusahaan, ketika perusahaan tersebut secara sadar menerapkan CSR meskipun perusahaan tersebut terbukti sebagai pencemar dan menjadi great value bagi perusahaan yang melaksanaknnya tapi tidak melakukan pencemaran. 

BUMN tempat saya bekerja sudah memiliki “buku panduan” CSR namun dengan judul yang berbeda, yaitu Program Pemberdayaan dan Pengelolaan Lingkungan (P3L). Ada beberapa klasifikasi yang digolongkan dan cukup mendetail. Namun lagi lagi, ketika masuk ke ranah implementasi, tidak sesuai SOPnya.

Well, menurut saya apapun motivasinya, konsep CSR telah memberikan “celah” baru bagi “korban” untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan bagi perusahaan sebetulnya merupakan peluang untuk mencitralingkungankan perusahaannya (baik kesadaran sendiri atau sekedar pencitraan), karena tren di masa depan adalah memenangkan pasar bagi perusahaan yang concern terhadap lingkungan.

Catatan Lama : Tsunami Aceh 2004

Tuesday, 26 December, 2006

10:27:14 AM

Hari ini di TV-TV gencar sekali menayangkan tepat 2 tahun tragedi tsunami di Aceh. sebuah tragedi terbesar dan terparah yang pernah ada di Indonesia. Tragedi yang menewaskan 200.000 umat manusia!

Semua mata seolah diingatkan kembali akan tragedi ini. Sebuah peringatan bagi umat manusia dari Sang Pemilik Kehidupan…Sang Maha Perencana merencanakan sesuatu dengan menurunkan tsunami di Kota berjuluk Serambi Mekkah, Aceh. Kenapa bukan kota lain? Surabaya? Bandung? Jogjakarta? atau Kota Metropolis yang menjadi kebanggaan rakyat yang tinggal didalamnya, Jakarta?

Sebuah pertanyaan besar bagi saya… Aceh, yang mayoritas penduduknya muslim diluluh lantakkan begitu saja… Ada apa dengan Aceh?

Saya ingat saya tidak merayakan Tahun Baru 2005 karena ingin ikut merasakan kesedihan di Aceh saat itu…

Saya ingat saya merasakan seolah bayangan tentang hari kiamat tergambarkan saat tragedi tersebut…

Saya ingat saya sempat meneteskan air mata melihat mayat-mayat tergeletak di jalan dari Televisi….

Saya ingat, seorang bocah yang selamat dari kejadian tersebut sedangkan seluruh keluarganya meregang nyawa…

Saya ingat seorang pria yang akan menikah dengan kekasihnya harus menangis melihat kematian merenggut calon istrinya….

Dan saya ingat, saya tidak dapat berbuat apa-apa melihat kejadian itu….

Ya Allah… Terima kasih atas peringatan yang kau berikan …

Terima kasih masih kau berikan tubuh ini nyawa yang amat berharga….

Terima kasih kau masih berikan kami kehidupan yang teramat sangat berharga…

 

Ampuni kami yang masih kufur terhadapmu …

Ampuni kami yang masih melanggar perintahmu…

Ampuni kami yang kurang mensukuri kehidupan yang telah keu berikan…

 

Ya Allah… Senantiasa ingat kami jika kami melangar apa yang kau perintahkan…

Jadikan kami manusia yang selalu bersyukur kepadamu…

Berilah kami kesempatan memperbaiki diri…

Jangan biarkan kami meregang nyawa dengan dosa dan hutang yn menyelimuti tubuh kami…

Jangan biarkan kami meregang nyawa dengan hati yang tak pantas untuk bertemu denganmu….

 

Ya Allah sekali lagi TERIMA KASIH atas KEHIDUPAN ini…….. TERIMA KASIH…

Amin.

Prioritas Hak Utama Pengguna Jalan di Indonesia

Saya baru tahu soal ini, yang saya tahu cuma ambulans saja, hee…  jadi, jangan kesal ya kalau ke-7 prioritas pengguan ini lewat dan kita terhenti karena memang undang-undang mengatakan seperti itu. Ini linknya http://id.berita.yahoo.com/inilah-kendaraan-yang-wajib-didahulukan-di-jalan-raya-214940101.html .

__________________________________________________

TRIBUJOGJA.COM , YOGYA -

Jalan raya adalah fasilitas publik yang boleh digunakan siapa saja. Namun, ada beberapa pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan pada kondisi khusus. Mereka yang memiliki hak utama didahulukan di lindungi oleh Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, khususnya Pasal 134 soal Pengguna Jalan yang Memperoleh Hak Utama, mereka antara lain:

1. Kendaraan Pemadam Kebakaran yang sedang melaksanakan Tugas;

2. Ambulans yang mengangkut orang sakit;

3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;

4.Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;

5.Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;

6.Iring-iringan pengantar Jenazah;

7. Konvoi atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. (*)

Fitur Salah Satu Pimpinan KPK Baru

Artikel yang diambil dari kompas menarik bagi saya, mengingat ada seorang pemimpin KPK (komisi pemberantasan korupsi) terpilih tetap memilih mempertahankan kebiasaanya sebelum menjadi pimpinan KPK.

Saya beropini bahwa beliau, Pak Bambang memang sosok yang sederhana, berintegritas dan 100% layak menjadi pimpinan KPK. Bayangkan, kereta yang begitu sesak, koruptor bisa saja patungan membayar pembunh bayaran untuk menghabisi musuh bebuyutunnya di kereta sehalus mungkin. Itu sangat mungkin terjadi, beliau menyadari itu tapi tetap berkomitmen berlaku seperti biasa. Ya, menjadi pemimpin KPK memiliki resiko keselamatan sangat tinggi menurut saya. Kalaupun harus antar jemput dengan pengawal saya rasa masih layak, mengingat tugasnya.

Anyway, apa yang disampaikan Pak Bambang semoga dapat dia realisasikannya. Pemimpin KPK perlu seorang yang mandiri, sehingga tidak ada  celah ketergantungan. Semoga kepemimpinan KPK yang baru dapat membawa perubahan besar dalam pemberantasan korupsi di negara ini. Amin. Selamat bertugas Pimpinan KPK Baru.

______________________________________________

Jika Terpilih, Bambang Tetap Naik Kereta

Kompas edisi Kamis, 1 Desember 2011 | 18:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah jadi pengetahuan publik bahwa keseharian Bambang Widjojanto lebih banyak menggunakan kereta api dari rumahnya di kawasan Bogor, Jawa Barat, menuju Jakarta untuk bekerja.

Kebiasaan calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tanyakan ketika menjalani uji kepatutan dan kelayakan capim KPK di Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (1/12/2011).

Trimedya Panjaitan, anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), menanyakan apakah kebiasaan itu akan tetap dilakukan Bambang jika terpilih jadi pimpinan KPK.

Trimedya menyinggung masalah keamanan di dalam kereta. “Jangan keluar banyak duit juga karena banyak pengawal,” katanya.

Atas pertanyaan itu, Bambang mengaku tetap akan melanjutkan kebiasaannya itu. Alasannya, dia bisa menghemat waktu sekitar satu jam jika menggunakan kereta daripada mobil menuju kantor KPK di Kuningan.

“Saya bisa tidur di kereta. Kalau naik mobil, saya harus nyetir sendiri karena sopir saya untuk anak saya. Jadi lebih mahal kalau naik mobil ketimbang naik kereta,” ucap Bambang.

Bambang mengatakan telah mendata pegawai KPK yang rumahnya di kawasan Bogor dan Depok yakni sekitar 60 orang.

“Kalau saya pergi dan pulang sama-sama, enggak perlu pengawal lagi dan itu efisien. Cuma mungkin pakai sedikit rompi biar enggak ditusuk,” ucapnya, disambut tawa anggota dan tamu.

 

Komisaris sebuah perseroan

Menjadi komisaris sebuah perseroan, ga pernah saya bayangkan sebelumnya. Tapi ternyata itu yang terjadi, setelah saya dipercaya menjadi pengurus sebuah koperasi karyawan. Nah, kebetulan perseroan tersebut kepemilikan sahamnya dimiliki oleh koperasi karyawan tersebut. Sehingga otomatis (menurut anggota koperasi tersebut) saya menjadi komisaris perseroan tersebut. Tapi jangan dibayangkan terlalu mewah, kalau jadi komisaris perusahaan Bakrie Group misalnya bolehlah dibayangkan hal -hal mewah. Tapi ini adalah perseroan yang didirikan atas inisiatif anggota koperasi karyawan, sehingga gerak usahanya pun masih di lingkungan koperasi karyawan tersebut. Meskipun sebenarnya bisa lebih luas lagi dan profitnya bisa lebih besar lagi (setidaknya itu jadi program kerja kepengurusan komisaris kami nanti).

Juni 2011, saya mulai menjadi pengurus koperasi dengan jabatan Sekretaris, namun selang September 2011, Ketua Koperasi Karyawan dimutasi ke tempat lain, sehinggap praktis saya menjadi Pelaksana Harian Ketua. Sehingga status Komisaris II sementara merangkap menjadi Komisaris I perseroan tersebut.

Artinya dalam waktu yang bersamaan jika menjabat sebagi pengurus di kopkar tersebut maka otomatis juga sebagai komisaris di perseroan yang berada dibawahnya. Dengan kesibukan utama sebagai karyawan BUMN sekaligus sebagai pengurus koperasi karyawan merangkap komisaris perseroan, sangat menyita waktu dan pikiran. Ya, tidak bermaksud sok idealis, tapi bagi saya sebagai karyawan yang digaji perusahaan kewajiban utama saya adalah menjalankan tugas utama sebagai Safety & Environmental Engineer, apapun kondisinya. Tapi prinsip saya juga, bahwa kepercayaan yang diberikan dengan benar, adalah amanah yang tidak bisa saya sepelekan.

Nah, setelah saya dan temen seruangan (kebetulan sama-sama di bagian enjiniring dan sama -sama terpilih sebagai sekretaris dan bendahara) menyelesaikan serah terima dengan pengurus lama, kami tidak langsung bergerak. Alasannya : kesibukan utama, ketidaktahuan kami didunia perkoperasian dan perseroan, dan ternyata laporan keuangan koperasi tidak dibuat selama tahun 2010-2011, gila! jadi pengurus lama ngapain aja?. Walhasil kami harus mulai dari hal yang seharusnya tidak perlu kami kerjakan, mengerjakan laporan keuangan pengurus sebelumnya! Bendahara kami yang kebetulan basic pendidikannya adalah Teknik Elektro jelas harus berlajar ekstra keras untuk dapat mempelajari tetek bengek pembukuan dan laporan keuangan (hal yang seharusnya tidak dia lakukan sekarang dan seharusnya saat ini dia hanya perlu membuat laporan dari laporan yang “seharusnya” dibuat pengurus lama, huh! menyusahkan!).

Kehilangan satu personil utama di kepengurusan koperasi, jelas membuat kami kelimpungan, khususnya saya yang otomatis menjadi Pelaksana Harian Ketua Koperasi. Maaf, bagi saya operasional koperasi dan perseroan memang masih barang baru. Tapi disisi lain, saya agak tertantang untuk mengembangkan atau lebih tepatnya mengimplementasikan ilmu manajamen saya (saya sangat tertarik dengan manajemen). Saya akan bercerita tentang tugas saya sebagai pengurus di posting lain. Entah, tertantang atau sial ternyata ketika kami menjadi komisaris persereoan, kondisi perseroan sedang mengalami masalah keuangan. Usut punya usut, ternyata kontrak pekerjaan utama (yang menjadi “jantung” usaha perseroan ini,karena nilainya sangat besar) tahun 2011 belum ditandatangani oleh pemimpin perusahaan yang menjadi partner perseroan kami. Itu artinya, dengan biaya operasional yang terus dikeluarkan, pemasukan akan terhambat (karena kontrak belum ditandatangani, maka tidak dapat menagih pembayaran jasa) bahkan bisa akan kekurangan dana untuk operasional. Suatu waktu, jika ini dbiarkan, perseroan tidak akan dapat membayar gaji pegawai, maupun operasional lainnya.

Membahas hal ini dengan Direktur Perseroan tersebut, tindakan pun kami lakukan. Pertama, amankan cashflow kami, dengan cara membuat prioritas pengeluaran, salah satunya menunda yang tidak begitu penting untuk dikeluarkan anggarannya dengan kata lain mengevaluasi prioritas dan kebutuhan. Namun, ternyata laju pengeluaran masih lebih tinggi daripada pengeluaran. Kedua, akhirnya usulan dari Direktur adalah meminjam dana dari pihak luar dengan bungan 9% perbulan! artinya hampir 100% hanya dalam 10 bulan, Gila! tapi Direktur menganggap ini satu-satunya jalan menutupi keperluan anggaran. Kami menyetujui, meskipun akhirnya menyesalkan. Situasi ini tidak bisa kami biarkan, kami tekan direktur untuk segera menyelesaikan kontrak dan membuat “keran” baru untun nafas perseroan. Sebagai informasi, entah kenapa direktur perseroan ini “cukup” defensive saat kami turut campur dalam “misi penyelamatan” ini. Aneh, menurut saya kalau tidak ada apa-apa.

Meskipun kontrak telah selesai dibuat dan ditandatangani pemimpin perusahaan partner kami, tapi masa sulit ini belum selesai, karena pembayaran belum dilakukan dan pengeluaran sudah didepan mata. Well, saya berharap keajaiban datang, setelah seluruh usaha kami “menyelamatkan” perseroan ini.

Sembari menunggu kabar baik  ini, akhirnya saya memiliki sedikit waktu untuk mempelajari perseroan ini melalui Akta Pendirian Perusahaan (hal yang seharusnya memang kami lakukan dahulu). Ternyata kegajilanpun saya temukan. Astaga, bagaimana bisa perseroan ini punya celah hukum yang bisa dimanfaatkan siapa saja untuk niat buruk. Salah satunya adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang seharusnya dilaksanakan setiap tahun, tapi tidak dilaksanakan. Mau seperti apa perseroan ini.

Saya teringat pembicaraan singkat dengan anggota koperasi karyawan yang terang-terangan menjadi koordinator pegawai lain supaya memilih kami sebagai pengurus koperasi dan komisaris perseroan, katanya ” kami cuma ingin koperasi dan perseroan ini dipegang oleh orang benar dan dapat mengarahkan koperasi dan perseroan ini dengan benar”.

Hmmm, semoga kami bisa terus amanah dan membuat keadaan ini lebih baik dan bahkan maju. Semoga, Bisamillah.

Kawah Putih, Ciwidey Bandung

Lokasi :

Wisata Alam Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung

Deskripsi :

Wisata alam diwilayah Kabupaten Bandung. Berbentuk seperti sebuh danau dengan potensi belerang masih sangat tinggi, karena merupakan bekas letusan gunung. Kawah ini berada di ketinggian, menuju kesana akan melalui alam yang masih bagus dan udara yang sangat sejuk (kalau tidak ingin dikatakan dingin). Lokasi ini pernah dijadikan lokasi video klip ST12.

Yang perlu menjadi catatan perjalanan saya adalah Harga Tiket Masuk (HTM) bagi yang membawa kendaraan pribadi cukup mahal. Untuk HTM per orang memang hanya Rp. 16.000 , tapi HTM untuk kendaraan pribadi Rp.160.000. Tapi jika ada menggunakan jasa Mobil Wizard, cukup mengeluarkan Rp.20.000 perorang.

Dokumentasi :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Dokumentasi Pribadi , 2010

Dredging Seminar (IHC Merwede Holland Products)

Waktu :

28 Nopember 2011

Lokasi :

WTC Penthouse Floor, Mercantile Athletic Club, Jakarta

Deskripsi :

Presentasi tentang kondisi sedimentasi di Indonesia, upaya pengelolaan dengan pengerukan, produk – produk mesin keruk (dredger) buatan perusahaan IHC Merwede Holland.

Dokumentasi :

jika ada yang membutuhkan file presentasi, silahkan tinggalkan email di “comment” .

Sumber : Dokumentasi Pribadi , 2011

Panti Asuhan Anak Sholeh

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, akhirnya hari ini saya dan istri, ditemani teman kantor yang sekaligus sahabat saya, Nanang dan istrinya mengunjungi sebuah panti asuhan, yaitu Yayasan Anak Sholeh “Hidayatullah”, terletak di Desa Kampung Baru, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong (Curup) , Provinsi Bengkulu.

09.00 WIB

Perjalanan dari rumah (dinas)  melalui jalan lintas Lubuk Linggau – Bengkulu. Melewati wilayah Curup (Rejang Lebong) -kota kecil yang sangat dikenal di Provinsi Bengkulu- kami terus menuju ke arah Lubuk Linggau. Namun, tidak sampai sejauh itu letak panti asuhan tersebut, bahkan sebelum lokasi wisata Danau Mas (wisata danau dengan udara yang sangat sejuk). Sampai di salah satu gang kecil di Desa Kampung Baru, kami berbelok masuk menuju dataran tinggi. Awalnya, kondisi jalan cukup bagus (kira-kira 1 km), namun selebihnya sampai panti asuhan tersebut tinggal jalan tanah berbatu. Cukup menghibur perjalanan menuju panti asuhan, karena kami melalui hamparan kebun sayur yang luar biasa indah dengan udara yang sejuk.

09.30 WIB

Sampai di panti, kami diterima oleh pengurus Pak Sulaiman. Berdasarkan penjelasan dari Pak Sulaiman, panti asuhan ini berdiri diawali dengan diberikannya tanah wakaf pada tahun 2001. Selama 2 tahun belum dilakukan pengelolaan, baru pada tahun 2003, mulai dibangun ruangan dan bangunan panti yang terbuat dari kayu. Bangunan awal sampaisekarang masih berdiri . 2005, berkat dukungan masyarakat dan donatur, sedikit demi sedikit panti asuhan dapat mulai membangun bangunan permanen.Bahkan saat ini sedang melaksanakan pembangunan Masjid Panti. Saat ini panti asuhan ini baru sanggup mengelola sekitar 65 anak. 90% masih usia SD. Beberapa sudah mulai masuk sekolah menengah dan baru 2 orang masuk perguruan tinggi dengan biaya panti.

Namun demikian, bantuan tetap dibutuhkan untuk terus menggulirkan tujuan mulia membentuk anak – anak sholehah. Bagi anda yang tergerak, silahkan lihat di page DONATE NOW! untk informasinya. Semoga anda dapat berpartisipasi membentuk generasi sholeh.

Dokumentasi :

Bangunan Awal Panti

Setelah 2005

Saat ini

Pembangunan Masjid Panti

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.